Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penjelasan Tentang Persepsi dan Sensasi

Persepsi dan Sensasi
Persepsi dan Sensasi

Perilaku manusia diawali dengan adanya penginderaan atau sensasi. Penginderaan atau sensasi adalah proses masuknya stimulus ke dalam alat indra manusia. Setelah stimulus masuk ke indra manusia, maka otak akan menerjemahkan stimulus disebut persepsi.

Persepsi merupakan proses menerjemahkan atau mengiterpresentasikan stimulus yang masuk dalam alat indra. Pada hakekatnya ada banyak stimulus yang ada di sekitar manusia, namun tidak semua stimulus tersebut berhasil diindra. Suatu stimulus akan berhasil untuk diindra karena memiliki syarat-syarat berikut:
  • Ukuran stimulus yang cukup besar untuk diindra (kekuatan objek)
  • Alat indra kita yang sehat.
  • Adanya perhatian manusia untuk mengamati stimulus disekitarnya.


Dalam dunia penginderaan pengamatan memegang peran yang sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari. Pengamatan adalah usaha untuk mengenal dunia sekitar menggunakan alat penginderaan. Dalam kehidupan sehari-hari meskipun stimulus yang diindera atau diamati sama namun bisa menimbulkan interpretasi hasil atau persepsi yang berbeda-beda. Apabila dilihat dari sudut pandang pengamatan, Sumandi (1990) menyatakan bahwa aspek pengaturan pengamatan dapat dibedakan menjadi:
  1. Pengaturan menurut sudut pandang ruang. Menurut sudut pandang ini arah suatu ruangan akan berpengaruh pada hasil pengamatan. Misalnya atas-bawah, samping kanan-kiri, jauh-dekat.
  2. Pengaturan menurut sudut pandang waktu. Menurut sudut pandang ini kapan suatu stimulus diamati akan mempengaruhi hasil pengamatan. Misalnya: kemarin dan hari ini, lima menit pertama dan lima menit berikut, saat istirahat dan saat bekerja.
  3. Pengaturan menurut sudut pandang Gestalt. Menurut sudut pandang gestalt, manusia cenderung mengamati suatu stimulus sebagai suatu kesatuan yang utuh dibandingkan melihat sesuatu bangunan rumah yang utuh yang bagus, bukan melihat sesuatu yang detail seperti gentengnya, pintunya, ataupun dindingnya.
  4. Pengaturan menurut sudut pandang arti. Dalam sudut pandang ini stimulus yang diamati dilukiskan berdasar arti bagi kita. Misalnya jika dilihat dari bangunan fisik yang sama tetapi memiliki arti yang berbeda
  5. Perbedaan hasil pengamatan atau persepsi juga dipengaruhi oleh individu atau orang yang mengamati.
Dilihat dari individu atau orang yang mengamati, adanya perbedaan hasil pengamatan dipengaruhi oleh:
  • Pengetahuan, pengalaman atau wawasan seseorang
  • Kebutuhan seseorang
  • Kesenangan atau hobi seseorang
  • Kebiasaan atau pola hidup sehari-hari.


Perbedaan Pengamatan - Persepsi dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Dari sudut pandang tertentu ketika kita mengamati, perilaku akan mempengaruhi persepsi yang terbentuk. persepsi yang ada pada seseorang akan mempengaruhi bagaimana perilaku orang tersebut. Secara umum apabila kita mengamati seseorang dari depan maka akan tampak kecantikannya, tetapi jika yang diamati bagian belakang maka kecantikan itu tidaklah tampak, demikian pula kapan kita mengamati juga akan memberikan hasil yang belum tentu sama.

Dengan demikian perbedaan sudut pandang pada pengamatan akan menghasilkan perbedaan persepsi. Persepsi manusia, baik berupa persepsi positif maupun negatif akan mempengaruhi tindakan yang tampak. Tindakan positif akan muncul apabila kita mempersepsi seseorang secara positif dan sebaliknya.

Sebagai contoh ketika kita mempersepsi siswa A adalah siswa yang pandai maka kita akan memperlakukan dia dengan menghargainya dan memberi kesempatan baginya untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya apabila kita menilai siswa B adalah siswa yang lambat belajar maka kita akan memperlakukannya berbeda dengan siswa A.

Mengamati seorang anak memerlukan kehati-hatian seorang pendidik. Dari sudut pandang mana pengamatan dilakukan akan menentukan keadaan anak selanjutnya. Berbagai penelitian menunjukan bahwa kecenderungan untuk mengamati orang lain dari sudut pandang negatif atau kekurangan-kekurangannya akan berdampak buruk bagi anak.

Hasil akan berbeda jika anak lebih banyak ditinjau dari sudut pandang yang positif atau kelebihannya. Penemuan Jack Canfield (dalam Deporter,1990) menunjukkan bahwa orang tua atau guru yang lebih tertarik memperhatikan kekurangan-kekurangan anak dan cenderung mengabaikan kelebihan atau perilaku positif anak akan mengakibatkan anak kurang dapat mengenal, menghargai maupun mengembangkan sikap dan perilaku yang positif, serta cenderung lebih peka dalam sikap dan perilaku negatif.